Minder Setelah Silaturahmi
Penyebabnya?
Minder.
Cukup banyak orang seperti ini yang Yamami tau. Katakanlah bertemu dengan sanak saudara memang menyenangkan. Apalagi sudah lama tidak bertemu. Mungkin hanya beberapa bulan sekali, satu tahun sekali, bahkan beberapa tahun sekali. Perasaan rindu itu ada. Namun, perasaan minder pun ada.
Alasannya simpel. Kebiasaan netizen Indonesia yang suka membandingkan antara satu dan lainnya sejak kecil. Hal itu membuat sang anak menanamkan dalam otaknya. "Ah, aku harus lebih hebat daripada dia."
Yang semula orang lain yang membandingkan, kelamaan diri sendiri yang membandingkan dengan orang lain. Itu beban banget.
Seperti contoh, setelah bertemu dengan saudara. Ditanya, "kapan nikah?"
Saudara yang lain sudah pada menikah, bahkan teman-teman, tapi kamu ketinggalan. Sudah usia dewasa, sudah usia menikah, bahkan mungkin lebih dari usia menikah, tapi masih belum menemukan jodoh. Akhirnya apa? Minder.
Keminderan setiap orang beda-beda. Ada yang memendam, ada pula yang melampiaskan. Memendam akhirnya benci diam-diam, yang bisa berakhir kriminal atau menjadi penyakit dalam diri. Melampiaskan pun bisa menyakiti orang lain, bisa menjadi bahan gosip, bisa dijauhi, atau juga kriminal. Walaupun ada juga yang masih bersabar. Cuek. Menganggap angin lalu.
Begitupula dengan pekerjaan. Si A belum kerja alias pengangguran. Si B sudah kerja bahkan sukses. Atau bisa juga si C sudah kerja, tapi gaji sedikit. Atau perusahan tidak terkenal. Mungkin juga tentang jabatan.
Atau permasalahan lain, seperti belum punya anak, anak cuma satu, anak sekolahnya dibandingkan dengan sekolah terbaik, mungkin juga ada yang bercerai, poligami atau masalah apa pun yang tidak nyaman dan selalu dibandingkan.
Tahukah kamu? Itu semua hanya penilaian manusia.
Kamu harusnya lebih memikirkan penilaian Tuhan kamu. Allah.
Katakanlah orang-orang yang dibandingkan dengan kamu itu lebih sukses, sudah menikah dengan anak sultan misalnya, anak banyak atau apa pun lah. Namun, kita engga pernah tau seberapa banyak berkah yang ada pada mereka.
Jika kamu ingin membandingkan, bandingkan dengan dirimu sendiri. Sudah lebih baik kah kamu dari yang kemarin? Lebih baik dalam jalur yang Allah ridhai.
Mungkin kamu merasa kok aku begini. Kamu juga iri sama mereka yang tampaknya lebih baik. Kamu nggak perlu begitu. Yang penting kamu menjadi baik di mata Allah.
Gapapa kamu belum sukses. Mungkin belum saatnya. Kamu belum nikah, gapapa. Allah menyiapkan jodoh terbaik untukmu. Ibaratnya orang memesan cincin kualitas terbaik, enggak akan selesai dalam 1 hari. Butuh waktu lama. Bisa jadi bahannya harus impor dan menunggu bahan itu datang. Semacam itulah. Why not jika kamu nantinya dapat yang terbaik?
Yok! Mending fokus memperbaiki diri karena Allah. Tugas manusia itu memang berusaha dan berdoa. Allah yang menentukan hasilnya.
Jika doamu belum terkabul, mungkin nanti dikabulkan. Allah ingin melihat bagaimana kesabaranmu dan usahamu. Mungkin juga akan digantikan yang lebih baik.
Perbaiki solatmu, ibadahmu, usahamu, dan bersabarlah. Jangan sampai menyesal. Seperti sebuah kisah di mana ada orang yang lebih mementingkan dunia yang kemudian akhirnya masuk neraka. Sedangkan orang yang mementingkan akhirat, akhirnya masuk surga. Di situlah orang yang mementingkan dunia tadi menyesal. Mengapa dulu dirinya berfoya-foya? Jabatan, istri cantik, kekayaan sama sekali nggak ada gunanya. Seharusnya ia mencontoh si orang baik. Menderita di dunia, tapi kaya raya di surga.
Ingat. Konteks akhirat itu selamanya. Waktu yang sangat lama. Tidak seperti di dunia yang terlalu pendek. So, mari kita lebih mendekatkan diri pada Allah untuk hasil yang terbaik.💚
Yamami minta maaf lahir dan batin, ya. Selamat lebaran dan liburan. Jangan terlalu minder dengan keadaan kamu. Bersemangatlah. Jangan juga menyombongkan diri bagi kamu yang sudah sukses, ya. Tetap ingat sama Allah.
Terima kasih atas perhatiannya, udah mau baca cuap-cuap pagi ini. Sampai jumpa!

Comments
Post a Comment