Kesedihan (Fiksi Mini)
Ku menangis~ membayangkan betapa kejamnya dirimu atas diriku~
Sebuah penggalan lirik lagu yang telah merasuk dalam tubuh ringkihku. Nasibku tak sebaik manusia lainnya. Sedari kecil, aku harus selalu pergi ke rumah sakit untuk pengobatan. Ya. Aku sakit keras. Aku menderita penyakit Pankreas.
Sekolahku seperti main-main belaka. Sering kali aku membolos. Ralat. Lebih tepatnya, cuti karena tubuhku yang tidak kuat untuk belajar lebih lama. Aku iri dengan yang lainnya. Sangat iri! Aku berbeda dengan orang-orang yang ada dalam cerita sinetron, film atau sebangsanya. Aku bukan protagonis. Bukan seorang penyakitan yang baik hati. Aku jahat! Aku suka iri dengan siapa pun yang kutemui. Bahkan orang tuaku sendiri!
Kenapa harus aku yang mengalami ini? Kenapa bukan orang tuaku sendiri? Aku anak durhaka! Terus kenapa?
Tentu saja, aku hanya durhaka dalam hati. Aku hanya muak. Ya. Itu adalah sisi gelapku. Aku memiliki dua sisi. Satu lagi, aku sangat menyayangi orang tuaku. Aku sangat sedih melihat mereka terus bersabar merawatku sejak dini. Hidup mereka, hanya dihabiskan untukku seorang. Kadang, aku beruntung. Aku adalah anak tunggal. Semenjak aku punya penyakit, orang tuaku tidak ingin punya anak lagi. Mereka fokus padaku. Aku senang atas perhatian itu.
Entah. Siapa aku? Sebenarnya, aku ini antagonis atau protagonis? Aku tak tahu. Mungkin, lebih baik cameo. Ya. Sebenarnya aku juga merasa diriku cameo. Cameo dari dunia yang luas ini. Hanya seseorang yang tak berguna. Seseorang yang terus merepotkan orang tuanya. Seseorang yang tidak bisa bertahan lama jika kecapekan. Seseorang yang benar-benar tak berguna.
Begitulah aku yang terus merasa merana. Sampai akhirnya, aku bertemu Fadli. Bukan jodohku. Bukan! Salah jika kalian mengira pria tampan itu jodohku. Ini bukan cerita romantis. Fadli, adalah adik angkatku. Ya. Orang tuaku tiba-tiba saja membawa bocah cilik yang tampan ke rumah. Mereka bilang, Fadli mereka adopsi dari salah satu panti asuhan.
Pikiranku buruk. Aku suuzan. Pasti orang tuaku sudah menyerah tentangku. Pasti, dokter mengatakan sesuatu yang berkaitan dengan umurku. Pasti, aku akan segera meninggalkan mereka.
"Kakak, ikut aku yuk!" rengek Fadli sambil menggenggam tanganku. Aku mengikutinya. Dia mengajakku bermain. Bibirku melengkung, aku hanya berusaha menikmati hidup.
"Kak, aku ingin berkata sesuatu."
"Ya, bilang saja."
"Aku dengar dari sebuah film, katanya jika punya penyakit Pankreas, ada mitos bahwa orang itu bisa makan Pankreas orang lain jika ingin hidup."
"Ah, itu. Aku pernah mendengarnya. Tapi itu hanya film, hanya mitos. Tidak mungkin sungguhan," sanggahku agar Fadli tidak percaya begitu saja. Bocah 14 tahun itu, aku yakin dia pasti mengerti maksudku.
"Aku tahu itu hanya mitos kak. Tapi, dicoba gapapa kan?"
"Jangan aneh-aneh kamu."
"Yaaah, udah terlanjur. Gimana dong?"
"Apa maksudmu?"
"Aku sudah membedah Ayah dan Ibu. Ini, untuk Kakak," ucap Fadli sambil membawa sebuah organ berlumuran darah. Aku tercengang melihatnya. Pikiranku liar. Sungguhkah itu milik orang tuaku? Jangan bilang, Fadli psikopat?
Fadli menyeringai dan terus mendekatiku. Aku berjalan mundur. Sungguh, ini sangat menakutkan! Lebih menakutkan ketimbang penyakitku selama ini. Ya Tuhan, aku harap semua ini bohong! Ayah! Ibu! Aku nggak mungkin hidup tanpa kalian!
"Vina! Fadli! Ngapain kalian?"
Aku menoleh dan melihat Ibu dalam keadaan sehat bugar dengan celemeknya memanggil kami dari teras rumah. Syukurlah, Ibu baik-baik saja.
Aku menoleh tajam pada Fadli. "Kamu boong ya?"
Fadli cengengesan. "Hehehe. Maaf, Kak. Aku cuma bercanda."
Aku bernapas lega. Lantas, kami berdua membereskan mainan kami. Fadli bilang, itu hati sapi yang sedang dimasak oleh Ibu. Fadli mengembalikannya, dan kami kembali ke dalam rumah.
Aku dan Fadli menonton santai di depan TV sambil menunggu Ibu memasak.
Jam makan malam telah tiba. Kami sudah siap di meja makan.
"Bun, Ayah mana?"
"Katanya lembur. Jadi, kita makan dulu ya!"
Aku mengangguk. Kami makan sup daging dengan lauk tempe dan bakwan. Enak sekali. Khususnya sup daging ini. Rasanya ada yang berbeda. Tidak seperti daging. Terlalu empuk dan kenyal. Namun aku tak peduli dan menyantapnya dengan bangga.
Namun, hari itu adalah hari yang sangat kusesalkan. Karena sejak hari itu, Ayah tak pernah pulang sampai Fadli dewasa. Dan ... menceritakan semuanya.
Tamat.
Comments
Post a Comment