Murder at Shijinso, Novel VS LA

Hallow~ Kali ini Izumi membahas film nih. Bukan berarti gak nyambung loh, masih berhubungan dengan novel! Yap, film satu ini yang berjudul Murder at Shijinso, adalah film Live-action dari novel yang berjudul sama.

Awalnya, aku sudah melihat cover ini sejak lama. Tapi, tau dong, film Jepang itu lama nyampenya ke sini. Cover sudah muncul, filmnya udah rilis, nyampenya di Indonesia nunggu 1-2 tahun😌Saya sudah hafal itu, karena saya pernah menjabat jadi admin FP Jepang. Paham sekali.

Nah, kemudian saya yang baru berkecimpung di dunia literasi, baru tahu ada novel terjemahannya. Ya saat saya nggak bokek, langsung saya buru dong! Dan saya beli. Saya langsung membayangkan tiga tokoh utama. Hamura, Kenzaki, dan Akechi. Covernya kan gitu, bertiga. Bayangan saya jauuuuuuh banget sama hasilnya.

Pertama, di novelnya, saya dikejutkan beberapa plot twist. Tapi, syukurlah, biar nyesek tapi suka! Pokoknya, saya suka banget sama novelnya.

Next ....

Akhirnya, filmnya muncul. Saya nonton, dan sangat tercengang! Banyak hal yang berbeda dari versi novelnya. Saya rasa, seperti novel I Want Eat Your Pancreas. Tapi beda! Menurut saya, masih mending itu, daripada ini. Jujur, saya sedikit kecewa. Masalahnya, bukan hanya ditambahi awalan dan akhiran. Tapi plot pun berubah.

Contoh: Pemeran Deme, seharusnya dia nggak ikut ke vila bersama-sama saat zombi menyerang yang pertama kali. Deme udah menghilang. Lagipula, para tokoh seharusnya tidak pergi ke festival rock! Mereka seharusnya pergi ke lokasi syuting. Barulah zombi menyerang di jalanan. Belum lagi, kematian seniornya Hamura, ada yang sangat berbeda! Harusnya keracunan, tetapi malah dibunuh pake tombak. Maaf saya spoiler, karena gemes banget. 

Saking banyaknya cast, rasanya enggak begitu terasa kuat per karakter. Tapi beda kalau di novel, makanya tebel. Harusnya dibuat dua part, biar lebih terasa kuatnya karakter. Terutama Akechi. Andai aja, adegan syuting nggak dipotong, bisa lebih menguatkan karakter Akechi.

Nah, akibat adegan syuting dipotong, berpengaruh dong sama adegan penemuan sepatu Hoshikawa.

Yaaah, pokoknya kurang sip untuk saya. Mohon maaf, memang beginilah saya. Hanya saja, karakter Hamura yang diperankan Kamiki benar-benar cocok. Aktor satu itu benar-benar menjiwai. Keren! Mungkin, sekian saja. Terima kasih.

Comments

Popular posts from this blog

Quarter Life Crisis

Pemula Mau Nulis Novel?

Kesedihan (Fiksi Mini)